KODIM 1306/DONGGALA GELAR TRAUMA HEALING BAGI ANAK-ANAK DI PENGUNGSIAN PETOBO KODIM 1306/DONGGALA GELAR TRAUMA HEALING BAGI ANAK-ANAK DI PENGUNGSIAN PETOBO

PALU (05/11/2018), Gema bumi disertai tsunami dan likuifaksi yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala telah menimbulkan trauma bagi masyarakat, terutama usia rentan seperti anak-anak. Anak-anak juga kehilangan teman sepermainan akibat mengungsi dan ada yang menjadi korban kedahsyatan bencana. Sekolah sebagai sarana belajar dan bermain juga mengalami kerusakan, tercatat sekitar 265 unit sekolah di Sulawesi Tengah rusak dengan kondisi yang bervariasi. Ada sebagian sekolah yang masih berdiri, hanya mengalami keretakan, namun sebagian besar anak-anak masih trauma masuk ke kelas. Mereka lebih tenang berada di tenda kelas lapangan.
Untuk menghibur anak-anak, Para Babinsa Koramil 1306-16/Palu Timur dan Ibu-ibu persit serta relawan memberikan trauma healing di lokasi pengungsian Petobo. Kegiatan diawali dengan acara berdoa, bercerita, dilanjutkan pembagian buku gambar dan alat tulis serta pembagian makanan. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan ini dan dengan asyiknya mereka mewarnai buku gambar yang sudah dibagikan.
Kegiatan taruma healing oleh anggota Kodim Donggala akan dilaksanakan secara terus-menerus bekerjasama dengan para guru dan relawan serta donatur. Sebagaimana yang disampaian Komandan Kodim 1306/Donggala, Letkol Kav I Made Maha Yudhiksa, bahwa selama ini anggota TNI dari Komando Tugas Gabungan Paduan (Kogasgabpad) yang membantu memberikan trauma healing, namun seiring dengan kondisi yang semakin membaik dan masa tanggap darurat berakhir dilanjutkan masa transisi, maka peran Kogasgabpad dilanjutkan oleh Korem 132/Tdl dan jajarannya, termasuk Kodim 1306/Donggala.
Menurut Rahmat Mubarok, Guru SD Inpres Petobo yang ditemui di lokasi pengungsian Petobo, “Sehari-hari kegiatan sekolah lapangan diisi hiburan sambil belajar, yang mengisi dari guru yang masih ada serta relawan, para guru dalam memberikan pelajaran dilakukan secara praktis tidak melalui buku”. Karena pada prisipnya yang penting anak-anak mau sekolah terlebih dahulu dan hilang trauma akibat bancana alam.
Menurutnya ada 5 sekolah dasar di wilayah Petobo yang rusak, yaitu SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Petobo, SD Inpres Petobo, SD Al Akbar dan SD Iqro’ Petobo. Di pengungsian Petobo, dari lima SD yang rusak tersebut dikelompokan dalam dua kelas, yaitu kelas 1,2,3 dan kelas 4,5,6, masing-masing kelas menampung sampai hampir 100 orang siswa. Saat ini pihak sekolah belum bisa mendata secara pasti keberadaan siswanya, karena posisi mengungsinya belum diketahui, ada yang keluar daerah atau ikut familinya ke tempat lain di luar Petobo dan ada yang hilang.
Lanjut Rahmat Mubarok, yang menjadi kendala saat ini disamping kondisi darurat di dalam tenda, kendala lain adalah pakaian seragam, alat tulis, dan kondisi ruangan masih di tenda sementara sebentar lagi mau masuk ujian sekolah. Dia berharap dalam Huntara yang disiapkan pemerintah bukan hanya disiapkan kelas, namun juga perlu ada ruang bagi guru-guru.

Leave a Reply