SEJARAH KODAM

SEKILAS SEJARAH KODAM XIII/MERDEKA

 

Situasi politik dan keamanan dalam negeri beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 belum menunjukan titik terang. Dibeberapa daerah terjadi pemberontakan dan aksi bersenjata yang berbentuk gerakan separatis. Kekacauan politik yang terjadi di dalam negeri mengakibatkan agresi militer Belanda dan pemberontakan bersenjata di seluruh tanah air mengisi tahun-tahun pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan Republik Indonesia tahun 1949.  

  Fenomena tersebut di respon oleh pemerintah dan TNI dengan melakukan konsolidasi dan reorganisasi terhadap institusi militer. Berdasarkan penetapan KASAD No. Pnt KASAD -161/KASAD, tanggal 30 Agustus 1950 dan Surat Pnt TT-7 No. 30006/VII/1950 tanggal 17 September 1950 tentang perubahan struktur organisasi dan pembagian wilayah, maka TT-VII/Indonesia Timur dibagi ke dalam empat Kompas (Komando Pasukan) yaitu: 1. Kompas “A“ berkedudukan di Bone dengan Komandan Letkol Sukowati, wilayahnya meliputi Sulawesi Selatan dan Tenggara. 2. Kompas “B” berkedudukan di Manado dengan Komandan Letkol J.F Warrouw, wilayahnya meliputi Sulawesi Utara dan Tengah. 3. Kompas “C” berkedudukan di Denpasar dengan Komandan Letkol A. Kosasih, wilayahnya meliputi Nusa Tenggara 4. Kompas “D” berkedudukan di Ambon dengan Komandan Kolonel Inf A. E. Kawilarang, wilayahnya meliputi seluruh daerah Maluku dan Irian Barat. Dalam perkembangan selanjutnya, Panglima TT-VII/Indonesia Timur dalam Surat Keputusan No: 80042/7/VII/1952 tanggal 5 Juli 1952, menetapkan diantaranya Kompas “B” menjadi Komando Resimen Infanteri 24 yang bermarkas di Manado. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 240/M/1957, tanggal 18 April 1957, Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI No. MP/A/77/1957, tanggal 27 April 1957, dan Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI No. MP/A/465/57, tanggal 26 Mei 1957 dalam rangka reorganisasi Angkatan Darat, dilakukan likuidasi terhadap TT-VII dan KODPSST.

  Sebagai kelanjutannya dibentuk 4 Komando Daerah Militer Indonesia Timur yaitu : 1. Komando Daerah Militer Sulawesi selatan dan Tenggara (KDMSST) berkedudukan di Makassar yang kemudian disebut Kodam XIV/Hasanuddin. 2. Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah (KDM-SUT) berkedudukan di Manado yang selanjutnya disebut Kodam XIII/Merdeka. 3. Komando Daerah militer Maluku dan Irian Barat (KDMMIB) berkedudukan di Ambon, yang kemudian disebut Kodam XVI/Pattimura, dan 4. Komando Daerah Militer XVII/Cendrawasih dan Komando Daerah Militer Nusa Tenggara(KDM-NT) berkedudukan di Denpasar, yang kemudian disebut Kodam XV/Udayana Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan KSAD Jenderal TNI Rudini Nomor Skep /131/11/1985 tanggal 12 Februari 1985 tentang likuidasi Kodam XIII/Merdeka dan Kodam XIV/Hasanuddin menjadi Kodam VII/Wirabuana, meliputi seluruh wilayah Sulawesi. Sejak berdirinya tahun 1957 hingga dilikuidasi pada 1 Mei 1985 Kodam XIII/Merdeka telah dipimpin 13 orang Panglima. 1. Letkol Inf Moersjid (1959) 2. Letkol Inf Soenardjadi (1959-1960) 3. Brigjen TNI Soenandar P. (1960-1966) 4. Brigjen TNI R. Soedarmono (1966-1967) 5. Brigjen TNI Kaharuddin N. (1967-1970) 6. Brigjen TNI Widjojo Soejono (1970-1971) 7. Brigjen TNI Julius Henuhili (1971-1974) 8. Brigjen TNI Eddy Wellington P. (1974-1976) 9. Brigjen TNI Edy Soegardo (1976-1978) 10. Brigjen TNI Rudini (1978-1981) 11. Brigjen TNI Drs. Susanto W. (1981-1983) 12. Brigjen TNI Adolf Sahala R. (1983-1984) 13. Brigjen TNI Raja Inal Siregar (1984-1985) Tiga puluh dua tahun kemudian, dengan berbagai pertimbangan strategis, dibentuk atau diaktifkan kembali Kodam di Sulawesi bagian Utara yaitu Kodam XIII/Merdeka.